Wednesday, 22 January 2014

Tentang Menjadi Tinggi

Seingat saya, jauh sebelum mengenal si Jon, saya sudah berkenalan dengan yang namanya cannabis. Namun perkenalan yang saya alami cuma sebatas di-share oleh seorang teman yang selalu membawa lintingan itu di dalam kotak kacamatanya. Bisa dibilang saya masih penikmat pasif. Dan saya menyukai efek yang ditimbulkan oleh kegiatan menghirup dalam-dalam lintingan yang dibakar ujung nya itu.

Beberapa masa yang lalu ketika saya sedang berada di kediaman si Jon selepas jam kantor usai. Si Jon terlihat gelisah. Beberapa kali saya bisa mengalahkannya dalam permainan bola yang selalu kami mainkan lewat playstation yang dimiliki si Jon. belum sempat saya tanyakan perihal kegelisahannya, si Jon sudah mengakuinya. Ternyata si Jon sedang menunggu kabar tentang transaksi pembelian satu kilogram cannabis kering yang menurut si penjual merupakan barang kiriman dari daerah Aceh sebagai daerah penghasil cannabis nomor satu nusantara. Saya sedikit penasaran tentang berapa jumlah rupiah yang dikeluarkannya untuk membeli satu kilogram paket tersebut. Namun seperti biasa, si Jon dengan lagak sok nya mengatakan bahwa gaji bulanan saya sebagai PNS takkan sanggup untuk membayarnya. Saya terdiam merenung. Tak lama kemudian perangkat selular si Jon berbunyi tanda masuk sebuah panggilan dari sang penjual. si Jon pun buru-buru pamit untuk membuka pintu masuk mempersilahkan sang penjual masuk ke rumahnya.

Sang penjual dengan ramah memperkenalkan dirinya dengan nama yang saya lupa. Untuk selanjutnya kita Sebut saja namanya dengan si Bro. Ternyata si Bro sedikit kesulitan menemukan alamat rumah si Jon yang menyebabkan molornya waktu janjian antara si Jon dan si Bro.

Tak berapa lama setelah si Bro saya lihat menerima selembar kertas struk ATM tanda transfer yang dilakukan oleh si Jon, si Bro pamit sambil memberikan selinting besar canabis dari bungkus rokoknya. Sebagai tester katanya singkat sambil terkekeh. Saya mengucapkan terima kasih.

Lintingan tersebut saya bakar dengan korek api milik si Jon yang tergeletak di segala penjuru ruangan kamarnya. Si Jon bahkan mempunyai sekotak utuh korek api gas yang belum disentuh hanya untuk jaga-jaga apabila si Jon kecarian korek api. Lintingan itu saya bakar dengan pandangan penasaran dari si Jon yang belum membuka paket canabis yang baru saja diterimanya itu. Dengan hati-hati dia menanyakan tentang rasanya.

Cannabis yang berasal dari daerah Aceh dikenal dengan kualitas nya yang tidak usah diragukan lagi, sangking bagusnya kadang saya sering berkhayal bahwa kedatangan bangsa penjajah dahulu ke daerah tersebut mungkin dikarenakan tersohornya kualitas dari sang tumbuhan itu. Biasanya cannabis yang berasal dari Aceh sangat pekat dengan getah THC yang terasa segar. Kesegaran yang saya rasakan memang tergantung dari seberapa kering cannabis yang dilinting. Cannabis yang saya terima sore itu ternyata mempunyai tingkat kekeringan yang hampir menyentuh titik sempurna. Tidak terlalu kering namun tidak juga bisa disebut masih segar karena terasa lengket.

Setelah dua kali hisapan biasanya asap saya tahan lama di dalam paru-paru hanya untuk merasakan kualitas si cannabis. Apabila nafas yang saya tahan tersebut berlangsung lama dan tanpa menimbulkan dorongan untuk batuk, bisa dibilang kualitas yang dimiliki dari lintingan tersebut adalah kurang bagus. Namun kali itu tidak sampai detik ke lima saya menahan nafas, saya terbatuk-batuk dengan sangat intens. Sangking intensnya beberapa kali saya mengeluarkan air mata menahan perih akibat kualitas THC yang dikandung lintingan tersebut. Si Jon pun buru-buru menyodorkan segelas air es yang langsung saya habiskan. pertanyaan si Jon yang menanyakan tentang kualitas lintingan tersebut tidak saya jawab dengan verbal. Dan si jon pun nampaknya terlihat tersenyum puas melihat betapa susahnya saya mengatasi batuk akibat begitu hebatnya kandungan THC dalam lintingan tersebut. Setelah terbatuk lintingan itu pun saya oper ke si Jon. Si Jon melakukan ritual menahan nafas yang juga mengakibatkan dirinya terbatuk dengan amat kencang. Malahan nampaknya si Jon lebih menderita karena saya sempat melihat dia sampai merubuhkan badannya untuk melegakan dadanya setelah meghabiskan segelas air dingin juga. sore itu entah kenapa kami bisa tertawa begitu lepas setelah merasakan batuk yang sangat hebat.

Dalam etika menghabiskan lintingan yang saya baca dari beberapa pedoman membakar selinting cannabis, Apabila dalam menghisap asap tersebut menyebabkan si penghisap batuk-batuk parah yang biasa kami sebut dengan istilah "kepatil" lintingan harus di pass ke orang di sebelah kiri

"always pass to the left"

Ternyata dalam ritual menikmati selinting cannabis ada beberapa peraturan yang biasanya selalu kami taati entah untuk apa. Mungkin kami hanya terlalu mengagumi tumbuhan magis tersebut sehingga dalam mengkonsumsinya harus menaati peraturan yang besar kemungkinanya dibikin oleh seorang stoner juga.

Dibawah ini adalah beberapa dari etika yang kami selalu patuhi

"he who rolls it must sparks it"

orang yang mengerjakan proses melinting sang canabis adalah orang pertama yang boleh menyalakan api untuk membakar ujung lintingan tersebut. Mungkin ini cuma sebagai penghormatan atas effort yang dilakukan si pelinting.

"puff puff pass"

Artinya operan dalam ritual ke orang disebelah harus dilakukan setelah hisapan ke dua atau bisa juga lebih. Semakin lama menahan putaran lintingan semakin tidak etis dalam penilaian kami.

"never complain about others weed"

Ini adalah tindakan yang sangat tidak sopan dalam ritual apabila dilakukan. Mengeluhkan tentang cannabis yang tersedia adalah etika yang seharusnya tidak boleh dilanggar.

Sore itu seingat saya kami lewati dengan selinting cannabis kualitas yahud yang menyebabkan imajinasi jauh meninggi melewati batas langit.




Tuesday, 21 January 2014

Selamat Datang Pemadat

Hari ini saya baru saja kembali dari rumah seorang kerabat yang sudah cukup akrab dengan saya. Sang kerabat untuk selanjutnya akan kita panggil dengan sebutan si Jon. Kerabat saya tersebut mempunyai hidup yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang saya punya. perbedaan yang kami punya ternyata mempunyai kesamaan di dalam selera musik dan hiburan-hiburan pengisi waktu senggang.

Si jon anak seorang pengusaha terkenal dari luar pulau jawa yang berdomisili di jakarta. Entah apa kiranya sebab sang orangtua si Jon untuk memutuskan memindahkan seluruh keluarganya ke jakarta. Alasan si Jon dahulu saat saya tanyakan mengapa padahal sang orangtua sudah cukup terpandang di daerah asalnya adalah karena sang orangtua mempunyai beberapa musuh politik yang selalu meresahkan keluarganya. Jawaban si Jon saya balas dengan anggukan kepala berpura-pura mengerti. Karir politik orangtua si Jon nampaknya pun berhenti setelah sang orang tua gagal dalam pencalonan dirinya untuk menjadi gubernur.

Usaha yang dimiliki oleh dinasti keluarga si Jon tersebar tanpa manajemen yang layak khas pengusaha-pengusaha yang dibesarkan oleh orde baru. Sangat ironis ketika melihat bagaimana si Jon membenci pemeritahan masa orde baru, namun kekayaan sang orangtuanya melejit di masa itu. Jenis usaha yang dimiliki sang orangtua si Jon meliputi bidang tambang dan pabrik pengolahan sumber daya alam lainnya yang jika kita lihat dalam undang-undang dikatakan dimiliki oleh rakyat. Namun kenyataan yang terjadi di nusantara, penguasa sumber daya alam kita berbentuk korporasi-korporasi kapitalis yang berlomba-lomba menggemukkan rekening para penguasa.

Apabila puan dan tuan sekalian bertanya-tanya dalam hati bidang manakah yang dikuasai oleh si Jon dalam meneruskan dinasti sang orangtuanya. Jawaban yang saya punya adalah bukan bidang yang sama. Si Jon memutuskan untuk membangun sebuah kantor periklanan yang ujung-ujung nya hanya mengerjakan pesanan dari orang-orang terdekat keluarganya. Setidaknya itu yang diakui oleh si Jon ketika kami mengawali perjumpaan dahulu. Namun seiring tahun yang berganti kantor yang dipunya si Jon berubah bentuk menjadi sebuah kantor yang menyediakan jasa pembikinan applikasi. Setahu saya kantor tersebut masih tetap berjalan dengan modal suntikan dari  rekening sang orang tua.

Tadi sewaktu saya berada di rumah si Jon selepas jam kantor, si Jon mengayun-ayunkan seplastik kecil butiran-butiran trasparan mirip kristal. Pertanyaan saya dijawabnya dengan lagak sok khas pemuda sok tahu yang kebanyakan duit. Benda tersebut ternyata bernama sabu-sabu. Narkotika kelas satu favorit masyarakat Jakarta untuk menambah tenaga. Beberapa masa yang silam sempat pernah naik ke permukaan tentang kasus seorang pilot yang menggunakan narkotika jenis sabu-sabu hanya untuk menambah jam aktifnya dalam mengejar penerbangan-penerbangan yag harus dibawanya. Kasus berhenti setelah sang pilot dipecat dan perusahaan maskapai penerbangan itu pun tetap tidak merubah penjadwalan jam penerbangannya.

Si Jon, dengan isi kantongnya yang tak pernah mengempis adalah seorang pemuda yang mengaku sangat berpengalaman dalam hal apapun. Dengan koneksi yang dibangunnya sangatlah mudah untuknya dalam membeli benda-benda aneh yang legal maupun ilegal. Jurnal ini nantinya akan saya isi dengan pengalaman-pengalaman saya menghadapi benda-benda aneh yang dibawa oleh si Jon tersebut.

Si Jon pun dengan lagak sok tahunya menanyakan kepada saya apakah saya tertarik untuk mencoba substansi kimiawi tersebut. Saya menggelengkan kepala. Bagi saya substansi kimia adalah benda yang tidak akan pernah saya sentuh. Selain alasan bahwa keturunan genetik saya yang lemah dalam paru-paru, zat kimia yang dikandung dalam sabu-sabu ternyata berbahaya dalam jangka panjang. Meskipun efek langsung yang dapat dirasakan adalah kemampuan untuk tidak merasakan rasa lelah dan penuh dengan energi dalam beberapa hari. Belum lagi efek akhir yang menyebabkan si pengguna merasakan perasaan horny yang luar biasa. Si Jon juga bercerita kalau di luar negeri sana pesta sabu-sabu biasanya berujung pada pesta orgy yang membingungkan. Namun tampaknya kali ini si Jon harus cukup puas hanya dengan menghabiskan berjudul-judul film biru yang pasti diakhirinya dengan mengunci kamarnya rapat-rapat. Hanya dia dan layar monitor macbook nya yang tahu apa yang sedang dilakukannya dalam kamar yang terkunci itu.

Gelengan kepala saya dijawab dengan aksi si jon memutar salah satu judul lagu dari the Doors yang menurutnya menyinggung tentang sabu-sabu. Judul nya Crystal Ship. Beberapa bagian liriknya saya dengar memang menyinggung kata crystal. Tidak tahu persis apa yang menginspirasi sang James Douglas Morrison dalam menciptakan lagu tersebut. Bagian lirik paling mendekati adalah di bagian reff yang terakhir.

The crystal ship is being filled
a thousand girls
a thousand thrills
a million ways to
spend your time
when we get back,
i'll drop a line.

Si jon saya tinggalkan ketika dia sedang sibuk dengan proses membersihkan selembar alumunium foil yang akan digunanakannya untuk menghasilkan asap putih pekat hasil pemanasan butiran kristal sabu-sabu dengan korek gas bersumbu kecil. Saya tidak ingin asap kimia itu menempel pada baju yang saya pakai. Hari itu saya pamit kepada si Jon dengan memakai alasan harus mengambil loundry. Si Jon saya tinggal pulang ditengah lagu The Doors yang lain. Riders On the Storm.