Seingat saya, jauh sebelum mengenal si Jon, saya sudah berkenalan dengan yang namanya cannabis. Namun perkenalan yang saya alami cuma sebatas di-share oleh seorang teman yang selalu membawa lintingan itu di dalam kotak kacamatanya. Bisa dibilang saya masih penikmat pasif. Dan saya menyukai efek yang ditimbulkan oleh kegiatan menghirup dalam-dalam lintingan yang dibakar ujung nya itu.
Beberapa masa yang lalu ketika saya sedang berada di kediaman si Jon selepas jam kantor usai. Si Jon terlihat gelisah. Beberapa kali saya bisa mengalahkannya dalam permainan bola yang selalu kami mainkan lewat playstation yang dimiliki si Jon. belum sempat saya tanyakan perihal kegelisahannya, si Jon sudah mengakuinya. Ternyata si Jon sedang menunggu kabar tentang transaksi pembelian satu kilogram cannabis kering yang menurut si penjual merupakan barang kiriman dari daerah Aceh sebagai daerah penghasil cannabis nomor satu nusantara. Saya sedikit penasaran tentang berapa jumlah rupiah yang dikeluarkannya untuk membeli satu kilogram paket tersebut. Namun seperti biasa, si Jon dengan lagak sok nya mengatakan bahwa gaji bulanan saya sebagai PNS takkan sanggup untuk membayarnya. Saya terdiam merenung. Tak lama kemudian perangkat selular si Jon berbunyi tanda masuk sebuah panggilan dari sang penjual. si Jon pun buru-buru pamit untuk membuka pintu masuk mempersilahkan sang penjual masuk ke rumahnya.
Sang penjual dengan ramah memperkenalkan dirinya dengan nama yang saya lupa. Untuk selanjutnya kita Sebut saja namanya dengan si Bro. Ternyata si Bro sedikit kesulitan menemukan alamat rumah si Jon yang menyebabkan molornya waktu janjian antara si Jon dan si Bro.
Tak berapa lama setelah si Bro saya lihat menerima selembar kertas struk ATM tanda transfer yang dilakukan oleh si Jon, si Bro pamit sambil memberikan selinting besar canabis dari bungkus rokoknya. Sebagai tester katanya singkat sambil terkekeh. Saya mengucapkan terima kasih.
Lintingan tersebut saya bakar dengan korek api milik si Jon yang tergeletak di segala penjuru ruangan kamarnya. Si Jon bahkan mempunyai sekotak utuh korek api gas yang belum disentuh hanya untuk jaga-jaga apabila si Jon kecarian korek api. Lintingan itu saya bakar dengan pandangan penasaran dari si Jon yang belum membuka paket canabis yang baru saja diterimanya itu. Dengan hati-hati dia menanyakan tentang rasanya.
Cannabis yang berasal dari daerah Aceh dikenal dengan kualitas nya yang tidak usah diragukan lagi, sangking bagusnya kadang saya sering berkhayal bahwa kedatangan bangsa penjajah dahulu ke daerah tersebut mungkin dikarenakan tersohornya kualitas dari sang tumbuhan itu. Biasanya cannabis yang berasal dari Aceh sangat pekat dengan getah THC yang terasa segar. Kesegaran yang saya rasakan memang tergantung dari seberapa kering cannabis yang dilinting. Cannabis yang saya terima sore itu ternyata mempunyai tingkat kekeringan yang hampir menyentuh titik sempurna. Tidak terlalu kering namun tidak juga bisa disebut masih segar karena terasa lengket.
Setelah dua kali hisapan biasanya asap saya tahan lama di dalam paru-paru hanya untuk merasakan kualitas si cannabis. Apabila nafas yang saya tahan tersebut berlangsung lama dan tanpa menimbulkan dorongan untuk batuk, bisa dibilang kualitas yang dimiliki dari lintingan tersebut adalah kurang bagus. Namun kali itu tidak sampai detik ke lima saya menahan nafas, saya terbatuk-batuk dengan sangat intens. Sangking intensnya beberapa kali saya mengeluarkan air mata menahan perih akibat kualitas THC yang dikandung lintingan tersebut. Si Jon pun buru-buru menyodorkan segelas air es yang langsung saya habiskan. pertanyaan si Jon yang menanyakan tentang kualitas lintingan tersebut tidak saya jawab dengan verbal. Dan si jon pun nampaknya terlihat tersenyum puas melihat betapa susahnya saya mengatasi batuk akibat begitu hebatnya kandungan THC dalam lintingan tersebut. Setelah terbatuk lintingan itu pun saya oper ke si Jon. Si Jon melakukan ritual menahan nafas yang juga mengakibatkan dirinya terbatuk dengan amat kencang. Malahan nampaknya si Jon lebih menderita karena saya sempat melihat dia sampai merubuhkan badannya untuk melegakan dadanya setelah meghabiskan segelas air dingin juga. sore itu entah kenapa kami bisa tertawa begitu lepas setelah merasakan batuk yang sangat hebat.
Dalam etika menghabiskan lintingan yang saya baca dari beberapa pedoman membakar selinting cannabis, Apabila dalam menghisap asap tersebut menyebabkan si penghisap batuk-batuk parah yang biasa kami sebut dengan istilah "kepatil" lintingan harus di pass ke orang di sebelah kiri
"always pass to the left"
Ternyata dalam ritual menikmati selinting cannabis ada beberapa peraturan yang biasanya selalu kami taati entah untuk apa. Mungkin kami hanya terlalu mengagumi tumbuhan magis tersebut sehingga dalam mengkonsumsinya harus menaati peraturan yang besar kemungkinanya dibikin oleh seorang stoner juga.
Dibawah ini adalah beberapa dari etika yang kami selalu patuhi
"he who rolls it must sparks it"
orang yang mengerjakan proses melinting sang canabis adalah orang pertama yang boleh menyalakan api untuk membakar ujung lintingan tersebut. Mungkin ini cuma sebagai penghormatan atas effort yang dilakukan si pelinting.
"puff puff pass"
Artinya operan dalam ritual ke orang disebelah harus dilakukan setelah hisapan ke dua atau bisa juga lebih. Semakin lama menahan putaran lintingan semakin tidak etis dalam penilaian kami.
"never complain about others weed"
Ini adalah tindakan yang sangat tidak sopan dalam ritual apabila dilakukan. Mengeluhkan tentang cannabis yang tersedia adalah etika yang seharusnya tidak boleh dilanggar.
Sore itu seingat saya kami lewati dengan selinting cannabis kualitas yahud yang menyebabkan imajinasi jauh meninggi melewati batas langit.